CONTOH KAJIAN KRITISI II

Standar

Kajian kritis:
Menarikkah Cerita Kembang Sepatu Raksasa?
(Suatu Kajian Kritis Terhadap Cerita anak-anak Berjudul: Kembang Sepatu Raksasa, Tulisan: NN)
Oleh: Dyan Riskiana Purnamalita

Saya

Dahulu kala ada seorang raja yang bernama raja Diandras, Raja ini sangat arif dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya. Sampai suatu saat raja mengalami sakit yang parah. Berpuluh-puluh tabib dari negeri sebrang  di datangkan dari negeri sebrang untuk mengobati penyakit sang raja, namun tidak satupun yang berhasil mengobati dan menyembuhkan penyakit sang raja. Akhirnya diadakan sayembara kerajaan yang diumumkan di tengah alun-alun kerajaan.

Sayembara itu berbunyi, barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit raja akan diberikan hadiah, jika ia (pemenang sayembara) adalah laki-laki maka ia akan di angkat menjadi pangeran sebagai ganti raja kelak, dan jika ia perempuan maka ia akan dijadikan permaisuri raja.
Setelah itu berdatanglah para tabib dan orang pintar dari segala penjuru negeri, ada yang datang dengan menggunakan perahu melintasi lautan ada pula yang menyebrang sungai, ada pula yang menggunakan kesaktian dengan terbang di atas awan.

Namun semua peserta sayembara yang datang untuk mengobati sang raja akhirnya gagal untuk menyembuhkan raja. Hingga pada suatu hari datanglah seorang pemuda masuk ke dalam istana.
Sesampainya dipintu istana, pemuda itu disambut oleh 2 orang penjaga pintu gerbang istana yang berbadan tinggi dan tegap. “ Berhenti kisanak, ada tujuan apa engkau hendak memasuki istana raja ”, tanya penjaga pada pemuda itu. Dari penampilanya pemuda itu tampak lusuh, bajunya compang-camping dan mukanya kotor serta tubuhnya sangat bau sekali.

“ Aku inggin menemui raja dan inggin menyembuhkan baginda raja”, kata pemuda itu sambil membungkuk dan menunjukan sebuah bungkusan pada para penjaga. Sontak para penjaga langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pemuda itu. “ Haahaha bagaimana munngkin kau bisa menyembuhkan raja, sedangkan kau sendiri takpak jorok dan merip seperti orang sakit, haha”, kata penjaga sambil tertawa memegangi perut mereka.
“ Tapi raja kalian sedang sekarat, apakah tidak boleh hamba menyembuhkan baginda raja?”, sontak para penjaga langsung melotot mendengar perkataan si pemuda tadi. “ hei anak muda, lancang sekali kau berkata raja kami sedang sekarat!”, “ Oh ya silahkan saja engkau lihat sendiri, bukanya sayembara ini diadakan untuk menyembuhkan raja?”.

Mendengar keributan yang terjadi di pintu gerbang, salah satu perdana menteri kerajaan menghampiri, “Ada apa gerangan wahai pengawal?”. Tanya sang menteri kepada penjaga.
“Ini tuanku, ada anak muda yang inggin mengobati  sakit baginda raja Diandras, tapi dari penampilanya dia sangat tidak meyakinkan”. “Baik, bawa masuk dia kedalam istana”, kata sang menteri.

Singkat cerita si pemuda ini masuk kedalam istana, kemudian ia memberikan isyarat kesembuhan kepada sanng raja. “Baginda raja, maafkan hamba yang telah lancang masuk kedalam istana raja, tapi ijinkan hamba memberitahukan bahwa sakit baginda raja hanya bisa diobati oleh bunga kembang sepatu raksasa, dan bunga itu hanya bisa diambil oleh orang yang paling jujur di kerajaan ini”.

Sehari setelah pemuda itu datang, keesokan harinya berbondong-bondong rakyat kerajaan itu mendatangi bunga kembang sepatu yang ada di dalam hutan, tak satupun bisa menghampiri bunga tersebut.

Sampai akhirnya ada seorang kakek tua, datang dan memetik bunga kembang sepatu tanpa ada halangan yang berarti. Si kakek lalu dibawa dan diboyong oleh pengawal istana dan memberikan obat yang berasal dari kembang sepatu untuk diminum  oleh sang Raja Diandras.

Dan akhirnya rajapun sembuh, dan sikakek tidak meminta satupun hadiah yang ditawarkan oleh sang raja, hanya ada satu permintaan sang kakek, yaitu ia inggin raja tetap memerintah negeri ini dengan lebih arif dan bijaksana lagi. Raja kemudian meneteskan air mata, ia tidak mengira di negeri ini masih ada orang yang ikhlas memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan.
Akhirnya sang kakek diangkat menjadi penasehat raja, dan raja Diandras pun kembali memerintah di negeri yang adil, damai dan sentosa bagi rakyatnya.

***
Kembang Sepatu

Ringkasan tentangmateri kajian

Cerita Kembang Sepatu Raksasa berkisah tentang seorang raja yang bernama Raja Deandras sedang sakit parah. Dimana sakitnya tak kunjung sembuh walaupun telah mendatangkan berpuluh-puluh tabib dari se,uruh penjuru negeri. Akhirnya raja membuat sebuah sayembara barang siapa mampu menyembuhkan penyakitnya maka akan diangkat sebagai penggati raja kelak bila dia laki-laki dan memjadi permaisurinya bila dia perempuan. Namun tetap saja tak ada yang mampu menyembuhkan raja. Hingga akhirnya datang seorang pemuda yang lusuh dan kotor ke istana hendak menyembuhkan namun di tentang oleh pengawal raja karena tampangnya yang tidak meyakikan. Akhirnya karena kebaikan perdana menteri pemuda itu diijinkan untuk masuk ke dalam istana. Pemuda itu mengisyaratkan kesembuhan raja. Raja akan sembuh bila diobati dengan kembang sepatu raksasa yang ada di hutan. Namun hanya orang yang jujur yang mampu memetiknya. Akhirnya semua rakyat mencoba memetiknya tapi tak ada yang berhasil. Sampai suatu hari ada seorang kakek yang mampu memetiknya dengan mudah. Setelah raja meminum obat dari kembangsepatu raksasa akhirnya sembuh. Raja terharu saat si kakek tak meminta apaun dari raja. Hanya meminta agar raja tetap memerintah namun lebih adil dan bijaksana lagi. Kemudian si kakek diangkat menjadi penasehat raja.

A.    Kelemahan
Sebagai sebuah cerita yang ditujukan kepada anak-anak, cerita Kembang Sepatu Raksasa tidak banyak memiliki kelemahan. Cerita ini memang sudah cocok untuk anak-anak. Diantara sejumlah aspek yang dikaji derkenaan dengan cerita tersebut, kelemahan yang cukup terlihat adalah yang berkenaan dengan struktur teks, tokoh, penokohan dan konflik.

1.    Struktur Teks
Mengapa dalam pengkjian struktur teks ini sangat penting?, terlebih menyangkut pemakaian EYD yang tepat sesuai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam cerita Kembang Sepatu Raksasa ini diorientasikan pada anak-anak. Dimana penerapan pemakainan EYD yang tepat harus dikenalkan pada anak sejak dini. Dengan harapan anak-anak akan lebih terbiasa untuk memakai EYD yang tepat.
Dalam Cerita ini ( yang mengacu pada teks di atas) banyak sekali ditemukan penggunaan tata bahasa yang kurang tepat seperti dalam penulisan kata depan, penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca yang kurang tepat dan kurang tepatnya saat melakukan pemenggalan kalimat. Misal penulisan kata depan yang dirangkai denagn kata berikutnya pada kalimat:
“Sesampainya dipintu istana, pemuda itu disambut oleh 2 orang penjaga pintu gerbang istana yang berbadan tinggi dan tegap”. Seharusnya kata dipintu ditulis di Pintu.
Penggunaan huruf kapital yang tepat pada kalimat “Dahulu kala ada seorang raja yang bernama raja Diandras”. Seharusnya kata raja ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada awal kata Raja karena diikuti oleh nama orang.
Penggunaan tanda baca yang tidak tepat seperti pada kalimat “ Berhenti kisanak, ada tujuan apa engkau hendak memasuki istana raja ”, tanya penjaga”
Seharusnya di beri tanda baca tanya di akhir kalimat menjadi “ Berhenti kisanak, ada tujuan apa engkau hendak memasuki istana raja ? ”, tanya penjaga.
Penulis lebih sering menggunakan tanda baca koma pada kalimat-kalimat yang panjang. Misalnya pada kalimat “Dahulu kala ada seorang raja yang bernama raja Diandras, Raja ini sangat arif dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya. Sampai suatu saat raja mengalami sakit yang parah. Berpuluh-puluh tabib dari negeri sebrang  di datangkan dari negeri sebrang untuk mengobati penyakit sang raja, namun tidak satupun yang berhasil mengobati dan menyembuhkan penyakit sang raja.” Seharusnya setelah kata Diandras di beri tanda titik kemudian muncul kalimat baru. Kata sambung “Namun” biasanya digunakan buat kalimat baru yang diakhiri tanda titik lalu diawali dengan huruf kapital. Sehingga kalimat akan menjadi : “Dahulu kala ada seorang raja yang bernama raja Diandras (.) Raja ini sangat arif dan bijaksana dalam memimpin kerajaannya. Sampai suatu saat raja mengalami sakit yang parah. Berpuluh-puluh tabib dari negeri sebrang  di datangkan dari negeri sebrang untuk mengobati penyakit sang raja (.) Namun tidak satupun yang berhasil mengobati dan menyembuhkan penyakit sang raja.”.

2.    Tokoh
Cerita untuk anak-anak tentu berbeda dengan cerita untuk orang dewasa. Diandras adalah seorang raja. Tapi rja yang seperti apakah dalam kepemimpinannya?. Oleh karena itu, sebagai sebuah cerita yang berorientasi pada anak-ank hendaknya penulis mampu menggambarkan karakter dan sifat sang raja lebih jelas  lagi. Sehingga si pembaca (anak-anak mampu mengembangkan imajinasinya terhadap sosok raja). Demikian untuk tokoh pemuda, para pengawal dan si kakek. Dengan adanya gambaran tentang tokoh-tokoh tersebut tentunya pembaca akan lebih mudah membandingkan antara dirinya, lebih mengerti sifat dari tokoh yang mana yang pantas untuk dicontoh dan mana yang tidak pantas untuk dicontoh.
Proses penggambaran mengenai hal tersebut, misalnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Diceritakan seorang raja bernama Diandras yang sudah lama sakit-sakitan. Saat sang raja sembuh si kakek hanya meminta agar raja mau tetap memimpin dengan lebih arif lagi. Tertulis pada kalimat “hanya ada satu permintaan sang kakek, yaitu ia inggin raja tetap memerintah negeri ini dengan lebih arif dan bijaksana lagi”. Pada kalimat yang bergaris bawah dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai sifat raja di masa lalu. Mungkin sebelum sakit raja memimpin kurang arif dan bijaksana. Ditunjang dengan kalimat selanjutnya “Raja kemudian meneteskan air mata, ia tidak mengira di negeri ini masih ada orang yang ikhlas memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan.” Penjelasan mengenai Raja yang meneteskan air mata memperkuat gambaran bila raja tersentuh, mungkin tersadar bahwa menjadi pemimpin memang harus arif dan bijaksana. Tergambar pula disana bahwa sesuatu yang ikhlas itu perbuatan baik yang sangat langka dan jarang. Selain itu pada percakapan antara si pemuda dengan para pengawal lebih menggambarkan pada karakter para pengawal yang hanya memandang sebelah mata rakyat jelata yang dianggap remeh dan tidak pantas masuk istana. Padahal si pemuda sudah menggambarkan wujud sopan santunnya dengan membungkukkan tubuh nya. Terlihat pada kalimat : “Aku inggin menemui raja dan inggin menyembuhkan baginda raja”, kata pemuda itu sambil membungkuk dan menunjukan sebuah bungkusan pada para penjaga. Sontak para penjaga langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pemuda itu.“Haahaha bagaimana munngkin kau bisa menyembuhkan raja, sedangkan kau sendiri takpak jorok dan merip seperti orang sakit, haha”, kata penjaga sambil tertawa memegangi perut mereka.”.  sosok penengah yang baik hati lagi adalah perdana menteri. Namun penulis tidak begitu jelas menggambarkan sifat perdana mentri. Seandainya penulis menggambarkan karakter perdana mentri lebih jelas lagi maka pembaca akan bisa membandingkan antara sifat yang terpuji dan sifat yang tercela.

3.    Penokohan
Bagi segi penokohan, kelemahannya adalah yang berhubungan dengan penggambaran watak tokoh yang kurang mendukung peran tokoh utama. Di sini pun sangat kurang menonjolkan raja sebagai tokoh utama. Karena tak banyak dialok raja yang menguatkan dia sebagai tokoh utama. Ataukah justru si pemuda? Atau si kakek kah yang berperan sebagai tokoh utama? . Tampak terlihat membingungkan. Hal ini pasti akan membuat pembaca (anak-anak) menentukan tokoh utama. Lalu karakter bunga sepatu raksasa pun tidak begitu jelas digambarkan keberadaannya. Padahal ini adalah inti dari cerita. Apalagi Bunga sepatu raksasa ini digunakan sebagai judul cerita. Mungkin judul disa dibuat sedikit berkaitan dengan sang raja. Misal “Kisah Sang Raja dan Kembang Sepatu Raksasa”.

4.    Konflik
Kelemahan cerita Kembang Sepatu Raksasa ditinjau dari segi konflik adalah penggambaran konflik yang kurang kuat dan kurang mencapai klimaknya. Sehingga membuat pembaca kurang penasaran dan tidak begitu ingin tahu tentang ceritanya. Bisa saja pembaca akan berekspresi biasa saja tentang cerita ini.
Memang penulis telah berusaha menggambarkan konflik dalam bentuk dialok yang pada dasarnya lebih ekspresif ketimbang sekedar mendiskripsikan keadaan.  Hanya saja seakan-akan ada kesan penulis mengurangi benerapa dialog. Akhirnya tampak cerita yang tiba-tiba sampai klimaks tapi tiba-tiba juga klimaks turun begitu saja.
Hal ini terlihat pada kalimat : “Sampai akhirnya ada seorang kakek tua, datang dan memetik bunga kembang sepatu tanpa ada halangan yang berarti. Si kakek lalu dibawa dan diboyong oleh pengawal istana dan memberikan obat yang berasal dari kembang sepatu untuk diminum  oleh sang Raja Diandras.
Dan akhirnya rajapun sembuh, dan sikakek tidak meminta satupun hadiah yang ditawarkan oleh sang raja, hanya ada satu permintaan sang kakek, yaitu ia inggin raja tetap memerintah negeri ini dengan lebih arif dan bijaksana lagi”. Dari penggalan dialog tersebut tampak jelas sekali bahwa penulis terkesan meringkas dan terburu-buru sekali mengakhiri konflik. Kenapa penulis tidak menggambarkan pula sesulit apa memperjuangkan untuk mendaapatkan Kembang Sepatu Raksasa?. Dengan demikian peran Kembang Sepatu Raksasa pun akan lebih bisa digambarkan oleh imajinasi pembaca bukan?. Tak ada salahnya penulis menambah sedikit doalog tentang susahnya penduduk lain yang akan memetik Kembang. Kemudian membandingkan dengan cara si kakek yang memetik.

B.    Keunggulan
Keunggulan cerita kembang sepatu Raksasa dapat dilihat dari segi keunggulan pada unsur intrinsiknya dan keunggulan pada pemanfaatanya dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.

1.    Keunggulan ditinjau dari segi intrinsiknya.
a.    Tema dan amanat cerita
Dalam setiap cerita pasti terdapat tema. Tema berarti pokok pemikiran, ide atau gagasan serta yang akan disampaikan oleh penulis dalam tulisannya. Tema dapat diartikan sebagai pengungkapan maksud dan tujuan, tujuan yang dirumuskan secara singkat dan wujudnya berupa satu kalimat. Tema sebenarnya berada didalam pikiran penulis, sebaiknya tema tetap dirumuskan secara eksplisit dalam bentuk kalimat yang panjang lebar. (sigodangpos.blogspot.com:2011)

Tema yang diangkat penulis dalam cerita ini sudah sangat sesuai untuk cerita anak-anak. Cerita Kembang Sepatu Raksasa ini bertemakan “ berlaku jujuran, arif bijaksana dan tidak meremehkan orang lain”. Tema moral tersebut memang sesuai untuk cerita anak-anak. Terutama untuk anak-anak kelas rendah sekolah dasar.
Selanjutnya sehubungan dengan amanat cerita, amanat cerita dapat ditemukan oleh pembaca dengan cara merumuskan dalam bentuk kalimat perintah, saran atau imbauan. (rumahbelajaredelweiss.blogspot.com:2012). Atau dengan memunculkan pertanyan- pertanyaan seperti misalnya, melalui cerita itu apa yang diinginkan oleh penulis?, apa yang inggin disampaikan penulis pada pembaca?, apa yang diperoleh pembaca dengan membaca cerita ini?. Jawaban dari pertanyan-pertanyaan tersebut akan mengarahkan pembaca menemukan amanat cerita.
Dalam cerita anak, pesan moral merupakan tujuan dari penulisan cerita. Artinya, dalam setiap cerita terkandung pesan moral yang inggin disampaikan kepada para pembaca. Proses penyampaian tidak dilakukan secara langsung, tetapi melalui serangkaian cerita.
Pesan moral yang disampaikan pada cerita Kembang Sepatu Raksasa adalah “ jangan memandang remeh seseorang dari penampilan luarnya saja, belajarlah untuk ikhlas menolong tanpa pamrih, bersifat adil dan bijaksana kepada sesama dan bersikap jujur”.

b.    Klimaks
Konflik demi konflik yang muncul dalam cerita akan mencapai puncaknya dan inilah yang dikenal sebagai klimaks. Klimaks harus muncul agar ada penyelesaian masalah dalam konflik cerita. Hal tersebut dimunculkan dengan baik oleh penulis. Dalam cerita Kembang Sepatu Raksasa. Kelimaks pada cerita ini adalah saat akhirnya ada kekek-kakek tua yang sanggup memetik Bungan sepatu raksasa dengan mudah karena kejujurannya. Sehingga baginda raja dapat sembuh dari penyakitnya. Sementara si kakek tua tidak menuntut imbalan apapun dari sang raja. Si kakek hanya meminta agar raja memimpin dengan lebih arif dan bijaksana lagi. Raja sembuh dan si kakkek diangkat sebagai penasehat raja. Cerita pun selesai dan itulah penyelesaiannya.

2.    Keunggulan ditinjau dari segi pemanfaatannya dalam bidang pendidikan dan pembelajaran.
Selanjutnya, keunggulan dalam pemanfaatannya di bidang pendidikan dan pembelajaran adalah:
a.    Dapat dijadikan sebagai salah satu referensi /materi pelajaran bahasa indonesia.
Misalnya untuk kelas 1 semester 1 SK mendengarkan dengan KD menyebutkan nama-nama tokoh dalam cerita. Kelas 1 semester 2 SK mendengarkan KD menyebutkan isi cerita. Kelas 2 semester 1 SK mendengarkan KD menceritakan kembali cerita dengan kata-kata sendiri.
b.    Menunjang pendidikan karakter.
Cerita Kembang Sepatu Raksasa ini sangat relevan untuk pendidikan karakter anak yaitu jangan memandang remeh seseorang dari penampilan luarnya saja, belajarlah untuk ikhlas menolong tanpa pamrih, bersifat adil dan bijaksana kepada sesama dan bersikap jujur.
Selain itu cerita ini juga sangat bermanfaat untuk pembaca karena cerita ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dapat dicerna dengan mudah oleh anak-anak sesuai usianya. Menumbuhkan kegemaran anak untuk membaca. Mengembangkan imajinasi anak.

C.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari kajian terhadap cerita Kembang Sepatu Raksasa adalah:
1.    Cerita kembang Sepatu Raksasa sesuai untuk siswa kelas rendah.
2.    Guru dapat menggunakan cerita kembang Sepatu Raksasa untuk bahan ajar  bercerita dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
3.    Cerita kembang Sepatu Raksasa dapat digunakan sebagai pembentuk karakter anak.
4.    Dalam cerita kembang Sepatu Raksasa terdapat pesan-pesan moral dan nilai-nilai edukayif.

D.    Saran
Saran yang dapat dikemukakan terkait dengan kajian cerita kembang Sepatu Raksasa adalah:
1.    Cerita kembang Sepatu Raksasa dapat dijadikan sebagai salah satu pembelajaran SD untuk kelas rendah.
2.    Guru dapat memperluas cerita kembang Sepatu Raksasa sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
3.    Melalui cerita kembang Sepatu Raksasa, guru dapat menyampaikan pesan-pesan moral kepada anak sesuai isi cerita.

E.    Referensi
http://sigodangpos.blogspot.com/2011/09/pengertian-tema.html
http://rumahbelajaredelweiss.blogspot.com/2012/07/mendengarkan-cerita.

Jangan Lupa Tinggalkan Balasan Anda Ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s