Profilku: Bertemu dengan Orang Paling Kaya

Standar
Profilku: Bertemu dengan Orang Paling Kaya

“Orang kaya adalah orang-orang yang senantiasa merasa “Kucup” dengan apa yang dia miliki sekarang. Sedangkan orang miskin adalah justru orang-orang yang senantiasa merasa “kurang” dengan apa yang ia miliki sekarang”

Beberapa wktu lalu saya berada dalam sebuah Bis antar kota yang berjubel sarat dengan penumpang. Terdengar suara pengamen dengan asiknya menyanyikan lagu pada “made in sendiri” dengan lirik sederhana dan nada yang easy listening. Keadaanlah yang telah menuntut mereka untuk menjadi kreatif.

Kebetulan di samping saya, pada bangku bis yang bersebrangan duduklah ibu-ibu. Dari penampilannya sih dia bukan orang “sembarangan”. mungkin ini kali pertamanya naik angkutan umum. Soalnya dia lebih pantas naik turun mobil mewah dengan plat nomor yang “terbatas”.
Sesaat kemudiaan, suara ngamenan sudah tak terdengar. Ternyata mas ngamen sudah mulai menyodorkan kantong plastiknya kepada para penumpang.
Saya memang usil, kenapa mata saya ini tertuju pada ibu-ibu kaya itu??? Terlihat dari arah saya duduk. Ibu itu sibuk mengeluarkan dompetnya. Dari dalam dompet itu dia seperti mencari-cari sesuatu. Pertama dia tarik lembaran warna ungu agak pink. Tapi entah kenapa dia memasukannya lagi (robek kali ya???hehehehe…). sesaat kemudian dia tarik lagi lembaran warna kuning. Tapi entah kenapa lembaran itu pun dimasukin lagi (hem….. mungkin lupa kali belum ada tanda tangan Bank BI-nya, he……). tak hentinya dia masih merogoh lebih dalam lagi. Kali ini yang di cabut lembaran warna biru. Eits……….!!! masih aja ternyata si biru juga di masukin lagi ke dompet(kenapa ya??? Mungkin sablonan si biru kurang rapi kali.he.e.e.e.e.e). masih kurang puas, di rogohnya lagi dompet itu. Dia tidak sadar bahwa si mas ngamen sudah menyodorkan kantongnya beberapa saat yang lalu. Lalu terdengar suara “KliiiiithiiiiKkkkkk” seperti suara recehan yang beradu dalam kantong plastik (wah…..kenapa si koin yang muncul??? mungkin karena si koin lebih awet kali ya,heheheheehe)…
Melihat pemandangan itu saya kok merasa geli sendiri, jadi ingat pengalamanku beberapa waktu yang lalu sebelum ini.
Sama, setting masih berkutat dalam sebuah perjalanan. Suatu hari saya pernah terlambat mendapatkan bus terakhir jurusan Blora – Purwodadi. Setelah menunggu lama, akhirnya saya dapet angkot yang hanya habis sampai daerah Ngawen. Saya turun di daerah ngawen. Saya melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sambil berharap ada angkotan umum yang ngompreng lagi. Di tengah perjalanan saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sangat lusuh, tampak kelelahan dan capek. Beliau menggendong seorang anak lelaki yang mungkin baru berusia sekitar dua tahunan. Anak lelaki itu sangat tampan dan imut. Tapi sayang tampak lusuh pula dan tak begitu terurus. Belum lagi di kedua tangan ibu itu tertenteng bawaan berat entah apa itu didalamnya. Kemudian kami berhenti sejenak duduk di lingkaran tanaman dipinggir jalan. Lumayan adem sih di bawah pohon, he,……
Akhirnya pembicaraan pun terjadi antara kita. Sebenarnya saya tahu apa pekerjaan beliau ini, tapi saya berusaha untuk tidak menamanyakannya. Tiba-tiba anaknya menangis, setelah ditanya ternyata minta permen. Wah untung saja sebelumnya saya dapat permen sisa pengembalian membeli sesuatu. Permen saya ya Cuma satu itu saja. Cuma permen seratus perak saja yang aku berikan sudah mengembalikan keceriaan si kecil. Sejaak saat itu beliau bercerita banyak tentang kehidupanya.
Beliau bercerita bahwa pekerjaannya adalah mengemis, sebenarnya beliau berat sekali menjalani pekerjaan ini tanpa memberikan jasa apa-apa. Disela-selanya mengemis, beliau tak segan-segan menawarkan jasa untuk mencucikan pakaian atau apalah pokoknya. Hidup beliau berubah drastis sejak tiga tahun lalu saat suaminya yang sangat bertanggung jawab itu terkulai tak berdaya akibat kelumpuhan. Terpaksa kini beliau yang harus putar otak untuk menyambung kebutuhan. Tak semu orang memberi dalam wujud uang tukasnya. Ada beras, dia menerima beras, ada cabai dia menerima cabai. Bahkan tak jarang dia hanya menerima ucapan “terimakasih” saja. Seperti kali ini dia bercerita bahwa uang dikantongnya hanya empat ribu rupiah. Uang ini akan berkurang dua ribu rupiah saat dibayarkan ongkos angkot pulang nanti, ucapnya sambil memperlihatkan uangnya. Inilah yang didapat seharian ditambah lagi dengan seperempat karung barang bawaan tadi yang ternyata adalah beras.
Tak terasa ada angkutan yang masih tesisa, kami pun naik. Saking ramainya angkutan tersebut kami tak dapat duduk berdekatan. Akhirnya cerita kami harus terputus sampai di sini. Mungkin saya terlalu capek sampai tak terasa saya telah tertidur.
Sesaat setelah itu saya terbangun, Alhamdulilah… ternyata saya sudah hampir turun. Penumpang pun sudah sepi. Dan bangku angkot beliau pun sudah kosong, saya ditak tau beliau dan anaknya tadi turun di daerah mana.”Ya sudahlah suatu saat mungkin saya bisa ketemu lagi” itu pikir saya.
Saya beranjak turun, sebelum saya turun tidak lupa saya bayar angkot saya dulu. Saya sodorkan uang dua ribu pada kenek angkot, justru beliau tersenyum sambil berkata “ enggak usah bayar mbak, sudah dibayar sama ibu-ibu yang gendong anak tadi sekalian”
Aku turun angkot hanya dengan ekspresi datar dan tertegun. Aku yakin, uang yang didapatnya seharian ini pasti sudah habis hanya unyuk membayar angkot saya dan angkotnya sendiri.
Ternyata tak perlu menunggu jadi “kaya” untuk berbagi. Justru bagi saya beliaulah orang terkaya yang pernah saya jumpai. Beliau merasa kaya dengan kekayaan materinya yang sedikit itu. Nyatanya beliau rela membaginya dengan saya, kalau beliau tidak merasa cukup dan masih merasa kurang tak akan mungkin mampu rela berbagi. Yang lebih penting lagi pelajaran yang saya peroleh, beliau adalah nyata-nyata orang yang “kaya” hati.
Saya, tersentak dari lamunan saya….
Ternyata pengalaman saya bertemu dengan ibu-ibu elit kali ini sangat kontras dengan pengalaman saya sebelumnya.
Saya makin trenyuh saat mas ngamen mendoakan hal –hal yang mulia pada ibu-ibu elit tersebut. Doa dan pengharapan yang panjang. Padahal hanya recehan yang keluar. Kebayangkan andai saja ibu elit itu rela melayangkan lembaran warna ungu agak pink.hehehehe……

Pepatah jawa bilang:
“Yen nabung tabungan donyo di pileh duit paling puol mbarep, yen nabung tabungan akhirat dipilih duit paling puol Ruju”

Semoga bermanfaat,
Ini cerita saya, Apa ceritamu????.(drpl,doc)

Jangan Lupa Tinggalkan Balasan Anda Ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s