BELAJAR ILMU IKHLAS : Punyakah Saya Keikhlasan Dalam Hati?

Gambar
BELAJAR ILMU IKHLAS : Punyakah Saya Keikhlasan Dalam Hati?

 “Sesungguhnya Saya tak tau Apa itu Ikhlas, Apa itu mengikhlaskan dan apa itu berbuat ikhlas, Yang saya tau bahwa dalam ikhlas ada ilmunya. Yaitu ilmu IKHLAS”

 عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”. (Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas ).
Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.
Ikhlas, kata sederhana yang selalu diucapkan oleh banyak orang, termasuk diri saya. Sering saya mengucapkan “Ikhlas” dalam setiap dinamika kehidupan.Tapi kenyataannya selalu saja masih muncul rasa was-was dan ketidak tenangan. Itu artinya, sudah adakah ikhlas yang sesungguhnya dalam diri saya?
Menurut Para ahli Fiqih, ikhlas ada ilmunya. Konon ikhlas adalah puncak ilmu tertinggi dalam dunia. Saya tak tau sejauh apa itu semua. Saya hanya akan mendiskripsikan sebatas kemampuan saya sebagai orang awam yang ingin mencoba mengulas tentang sebuah keikhlasan.

Dalam Hidup, ikhlas itu sangat sulit, perasaan tak ikhlas itu seperti lilitan hewan kaki seribu pada salah satu jari. Kenapa tidak????? saat kita berontak, dia akan semakin kuat melilitkannya, begitu pula dengan sebuah Perasaan tidak ikhlas.

Bagaimana Allah menguji keikhlasan kita???
Ingatkah kita?? Dalam hidup kita pasti ada hal yang paling berharga dan bernilai. Tentulah kita akan semakin sulit menerima sebuah kehilangan bila sesuatu itu semakin tinggi penghargaan kita terhadapnya.

Dalam sebuah cerita,: suatu hari di sebuah acara ospek perguruan tinggi, senior mengatakan,
“carilah teman terbaik anda, selama ospek disini, setelah anda menemukan. Berdirilah kalian berhadap-hadapan”
Akhirnya para mahasiswa itu pun berhadap-hadapan.
Instruksi senior selanjutnya “Aku yakin, kalian punya satu barang yang pualing kalian anggap berharga dalam hidup ini???iya kan???”
“Iyaaaaaaaaaaaa…….” jawab calon mahasiswa.
“Coba kamu keluarkan barang itu, tunjukan pada sahabat yang dihadapanmu sekarang, ceritakan alasanya, kenapa dia menjadi yang paling berharga??? Dan apa yang akan terjadi bila anda kehilanganya suatu hari nanti??? Lakukan bergantian ya”
“Iyaaaaaaaaa……….” jawab mahasiswa antusias.
Banyak sekali alasan mereka,
“Ini adalah sebuah cincin, …. cincin ini dari pacar saya… jelas saya akan kehilangan bila cincin ini hilang.”
“Ini adalah laptop saya, saya bisa mati kalau sampaek ini hilang, karena semua data-data penting saya ada disini”
“ini adalah tas favorit saya, saya bisa sedih bila ini hilang, karena ini belinya diluar negeri”
Kira-kira itulah jawaban dari sebagian mereka.
“Jadi sepakat ya kalian tidak inggin kehilanganya??? Dalam acara ini akan ada acara tukar kado yaitu, Tolong Serahkan barang yang paling kalian anggap berharga itu kepada teman yang dihadapan kalian sekarang” ujar senior…
Dan semua calon mahasiswa tertegun,…..

Begitulah sekilas tentang ikhlas, Allah akan mengambil apa-apa yang kita anggap berharga untuk meguji keikhlasan kita. Saat Allah mengambil satu kebahagianmu tapi kita justru mengeluh, maka akan diambilah kebahagianmu yang lain. Lalu kita  masih mengeluh, maka allah akan mengambil kebahagiaanmu yang lain lagi. Lalu kita berkata “Aku Ikhlas ya Allah…”
Namun, kenapa Allah masih mengambil kebahagian kita yang lain lagi?????
Ingat Allah yang maha tahu segalanya, bukankah kalo sudah begini hanya tinggal mawas diri????? Jelas mungkin kita ikhlas hanya di lisan saja, Sudahkah kita ikhlas dihati???? .
Semuanya akan menemukan titik keseimbangannya  saat segala yang berharga hilang semua sampai pada akhirnya kita merasa tak ada yang lebih berharga lagi (Kecuali Allah) sehingga muncul ucapan yang rela untuk berkata “Ya sudah, berikanlah saja dan Lupakan…”
Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agamaMu.
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. [HR Nasa-i, VI/25 dan sanad-nya jayyid sebagaimana perkataan Imam Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib, I/26-27 no. 9. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib Wat Tarhib, I/106, no. 8].
Semoga bermanfaat,
Language Tio_Hugest,cM
DRDL

42 responses »

  1. Subhanallah..cerita yang amat bagus..semoga keikhlasan akan selalu tertanam dihati tiap manusia..dan selalu ingat kepada-Nya.
    dan kita sudah tahu juga dari penggalan cerita Nabi Ibrahim as yang rela berkorban menyembelih anaknya yang paling dia sayangi yaitu Nabi Ismail as. dan menjadi sejarah keikhlasan dalam dunia ini. itulah pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as Kepada Allah S.W.T.

  2. bagaimana belajar ikhlas ..apalagi saat hrus merelakan dan ikhlas saat orang yg kita sayangi menjadi milik orang lain , .dan kita belajar mencintai orang yg saat ini ada di hadapan kita dg ikhlas

    • Hey Rosiatun, salam semangat dri Dyan…, em… gmn ya? sbnrya sy jg g tau mslh iklas dan ilmu ikhlas, makanya saya belajar untuk mencari tau sampai teride buat nulis ne artikel. kalo menurut saya pribadi, saat orang itu dikatakan tlah “iklas” pkoknya punya rasa “sensasi” sendiri dech dari sang Kholik. yg saya tau, nih katanya ya, he,,….. ilmu ikhlas itu adalah ilmu tertinggi.

      intinya kita jangan blajar untuk mengikhlaskan sesuatu agar mendapatkan sesuatu yg lebih baik. tapi kalo ikhlas ya ikhlas aja. tanpa syarat dan ketentuan. shring yuk…. sy jg blm tau kuncinya ko…Salam.

  3. ikhlas itu seperti kita membuang kotoran di wc dan setelah kita keluarkan maka tidak akan kita ingat lagi malah bersyukur kepada allah mungkin itulah sesederhana contoh ikhlas.

  4. ikhlas itu tidak bisa di ucapkan dengan kata kata karna jika di ucapkan dengan kata2 maka segela sesuatu tidak akan ikhlas , ikhlas dari hati untuk allah mengharapkan ridho Allah SWT

  5. ~ PERBEDAAN ‘IKHLAS’ & ‘PAMRIH’ ~
    Salah satu akhlak tertinggi di dalam agama Islam adalah IKHLAS. Lawannya, PAMRIH. Kenapa Islam mengajarkan keikhlasan? Karena, Allah menghendaki umat Islam menjalani agamanya ‘tanpa pamrih’. Semua aktivitas hidupnya dilakukan lillahi ta’ala ~ ‘karena Allah semata’.
    Bersyahadatnya, karena Allah. Shalatnya, karena Allah. Puasanya karena Allah. Zakatnya karena Allah. Dan hajinya pun karena Allah. Demikian pula ketika menolong orang, menuntut ilmu, bekerja, menjadi pejabat, menjadi ustadz dan ustadzah, menjadi hakim, jaksa, polisi, profesional, dan apa pun aktivitasnya, semua dijadikan sebagai proses belajar IKHLAS dalam mengagungkan Allah semata.
    Lantas, bagaimanakah membedakan ibadah yang ikhlas dan ibadah yang penuh pamrih? Pada dasarnya: Orang yang ikhlas, menjalankan agama KARENA ALLAH semata. Sedangkan orang yang pamrih, melakukan ibadah karena ingin memperoleh sesuatu untuk keuntungan DIRINYA. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
    1. Orang yang ikhlas meniatkan shalatnya karena Allah semata, persis seperti doa iftitah yang dibacanya: ’’inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin ~ sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah semata.’’ Sedangkan orang yang pamrih, meniatkan shalatnya untuk mengejar pahala 1x, 27x, 1000x, dan 100.000x. Ada juga yang melakukan shalat Dhuha karena ingin memperbanyak rezeki. Atau shalat tahajud agar punya karomah. Dan lain sebagainya.
    2. Orang yang ikhlas, menjalankan puasanya karena taat kepada Allah semata. Karena dengan puasa itu ia akan menjadi jiwa yang lebih suci, sehingga lebih mudah mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan yang pamrih, melakukan puasa karena tujuan-tujuan yang selain mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, ada orang berpuasa agar lulus ujian, agar mendapat jodoh, agar langsing, agar sehat, agar sakti, dlsb. Padahal, semua itu hanya ’dampak’ saja dari ibadah puasa. Tidak usah dipikirkan dan apalagi dijadikan tujuan. Kalau puasanya ’karena Allah’ semata, PASTI semua dampak positip itu akan datang dengan sendirinya.
    3. Orang ikhlas menunaikan zakat dan shodaqohnya karena ingin menolong orang lain, meniru Sifat Allah yang Maha Pemurah. Tetapi, orang yang pamrih mengeluarkan zakat dan sedekah karena ingin dipuji orang, untuk memunculkan rasa bangga di dalam hatinya karena bisa menolong orang, atau yang lebih parah lagi adalah berharap balasan pahala sampai 700 kali dari nominal yang dikeluarkannya. Jadi, ketika dia mengeluarkan uang Rp 1 juta, yang ada di benaknya adalah berharap mendapat BALASAN Rp 700 juta. Berdagang dengan Allah..!
    4. Orang ikhlas menunaikan haji dan umrohnya, karena ingin memperoleh pelajaran berkorban, bersabar, keikhlasan, dan ketaatan, dalam mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan yang pamrih, ingin sekedar BERDARMA WISATA, meskipun diembel-embeli dengan kata RUHANI. Bahkan saat haji banyak orang yang meniatkan hajinya sekedar pada titel HAJI, atau penampilan berkopiah haji, panggilan ’Wak Haji’, dan kemudian membeli sertifikat haji dengan mengubah namanya. Dia berhaji bukan karena Allah, tetapi karena segala macam tujuan selain Allah.
    5. Orang ikhlas mengorientasikan seluruh ibadahnya untuk MENCINTAI ALLAH, dan merendahkan ego serendah-rendahnya sebagai manifestasi syahadatnya: laa ilaaha illallah ~ tiada Tuhan selain Allah. Tetapi orang-orang yang pamrih mengorientasikan ibadahnya untuk mengejar SURGA, sehingga tanpa terasa ia meninggikan egonya, dan mengesampingkan Allah sebagai fokus ibadahnya. Allah bukan tujuan hidupnya. Tuhannya sebenarnya bukanlah Allah, melainkan Surga. Karena, ternyata, imajinasi kebahagiaanya bukan saat dekat dengan Allah, melainkan berada di dalam surga. Yang demikian ini, justru tidak akan mengantarkannya ke surga. Karena surga itu hanya disediakan bagi orang-orang yang mengarahkan seluruh kecintaannya hanya kepada Allah semata. Dan itu tecermin dalam doanya: Allahumma antasalam, waminka salam … ~ Ya Allah, Engkaulah Kebahagiaan dan Kedamaian Sejati, dan dari-Mu-lah bersumber segala kabahagiaan …
    Maka, kawan-kawan, marilah kita belajar menjalani seluruh aktivitas kehidupan kita ini dengan IKHLAS. Bukan ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, atau terpaksa ikhlas, melainkan IKHLAS yang dilambari oleh KEPAHAMAN tentang substansi apa yang akan kita lakukan. Semakin paham Anda terhadap apa yang akan Anda lakukan, semakin ikhlas pula anda menjalaninya. Sebaliknya, semakin tidak paham, maka semakin tidak ikhlas pula hati Anda dalam menjalaninya. Terpaksa Ikhlas, karena takut masuk neraka dan tidak memperoleh surga…
    Betapa sayangnya, di dunia merasa tersiksa karena TERPAKSA mengikhlaskan ibadahnya, sedangkan di akhirat juga tidak memperoleh buah perbuatannya, karena ia tidak mendasarkan ibadahnya lillahi ta’ala. Surga yang digambarkan sebagai taman-taman yang indah dengan mata air-mata air itu tidak memberikan dampak kenikmatan baginya, karena sesungguhnya keindahan itu dikarenakan KECINTAAN kepada Sang Maha Indah. Mirip dengan orang yang menginap di hotel bintang lima, tetapi hatinya tidak bisa menikmati dikarenakan ia datang kesana dengan TERPAKSA …
    QS. Yunus (10): 105
    Dan HADAPKAN-lah wajahmu (orientasi hidupmu) kepada agama dengan TULUS dan IKHLAS dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik (menduakan Allah sebagai tujuan hidup).
    QS. Al A’raaf (7): 29
    … Dan LURUSKANLAH wajahmu di setiap shalat dan sembahlah ALLAH dengan MENGIKHLASKAN ketaatanmu kepada-Nya…
    QS. An Nisaa’ (4): 125
    Dan siapakah yang LEBIH BAIK agamanya daripada orang yang IKHLAS menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun MENGERJAKAN kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim (dan orang-orang yang mengikuti ajarannya) menjadi KESAYANGAN Allah.
    Wallahu a’lam bishshawab
    ~ salam ~

  6. “7 FAKTOR DENGKI”
    Sahabat yang dirahmati Allah,
    Hasad dengki adalah satu sifat mazmumah yang dibenci oleh Allah S.W.T. Sesiapa yang ada sifat ini sebenarnya ia tidak meredai ketentuan Allah S.W.T yang telah dikurniakan sesuatu kelebihan atau nikmat kepada seseorang dikalangan hamba-hamba-Nya.

    Terdapat tiga ciri sekiranya ada pada diri seseorang ia mempunyai penyakit hasad dengki.

    1. Yaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.

    2. Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.

    3. Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.

    Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali ada disimpulkan tujuh faktor yang menimbulkan perasaan hasad dengki tersebut.

    Antara lain :-

    1) Perasaan Permusuhan dan Kebencian

    2) Merasa Diri Mulia

    3) Takabbur

    4) Ujub

    5) Takut Terlepas Sesuatu Tujuan dan Habuan

    6) Ghairah Menjadi Ketua dan Mencari Populariti

    7) Busuk Hati.

    Huraian faktor-faktor tersebut adalah seperti berikut.

    PERASAAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN

    Ini adalah sebab yang paling banyak menimbulkan kedengkian. Kerana sesiapa yang disakiti oleh seseorang lain atas sebab-sebab tertentu atau menyangkalnya dalam tujuan-tujuan tertentu lantaran alasan-alasan tertentu, hatinya pasti marah lalu membenci orang yang menyakitinya itu, maka tertanamlah bibit dengki dalam dirinya. Dengki mengundang perlakuan yang agresif untuk memuaskan hatinya.

    Pendekkata perasaan hasad dengki sentiasa bergandingan dengan perasaan marah dan permusuhan. Semua manusia pada dasarnya memiliki sifat marah, kerana marah adalah salah satu tabiat manusia. maka agama tidak melarang marah, tetapi kita diperintahkan untuk dapat mengendalikan marah dan senantiasa menjadi pema’af.

    Fiirman Allah s.w.t yang bermaksud : “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”
    (Surah Al-A’raaf ayat 199)

    Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : “Orang yang terkuat di kalangan kamu semua ialah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya di ketika dia marah dan orang yang tersabar ialah orang yang suka memberikan pengampunan di saat dia berkuasa memberikan balasan (kejahatan orang yang menyakitinya)”
    (Hadis Riwayat Baihaqi)

    MERASA DIRI MULIA

    Perasaan ini manifestasinya ialah seseorang itu merasa keberatan kalau ada sesiapa yang dianggapnya mengatasi dirinya. Dia tidak rela kalau ada orang lain melebihinya. Kalau ada orang –orang sepertinya yang mendapat lebih pangkat, kuasa, ilmu dan harta, dia bimbang kalau-kalau orang tersebut akan bersikap sombong terhadapnya. Dia tidak boleh tahan dengan sikap mengatasi yang ditunjukkan oleh saingannya itu. Malah dia tidak boleh menerima apa yang dirasakannya sebagai sikap mengatasinya.

    TAKABUR

    Jelasnya seorang itu mempunyai watak membesarkan diri terhadap orang lain, selalu memperkecilkan dan mempergunakan seseorang untuk kepentingan dirinya. Ia menganggarkan seseorang itu mematuhinya. Apabila orang berkenaan menerima atau memperolehi sesuatu kurnia ia khuatir kalau-kalau orang itu tidak lagi merelakan diri untuk mengikut arahannya. Akhirnya orang yang telah mendapat kurnia tersebut akan enggan mengikutinya, atau boleh jadi ia menganggap orang tersebut akan cuba pula menyainginya.

    Allah S.W.T. berfirman (di dalam Hadis Qudsi) : “Kesombongan adalah selendangKu dan kebesaran adalah sarungKu. Maka barang siapa menyamai-Ku salah satu dari keduanya, maka pasti Kulemparkan ia ke dalam Jahannam dan tidak akan Kupedulikan lagi.”

    Apabila kita meneliti maksud hadis ini, ia dengan jelas menyatakan bahawa kesombongan dan kebesaran itu hanya milik Allah s.w.t. semata-mata, tetapi bagaimanakah perasaan ini masih boleh timbul di dalam hati manusia?

    Sebenarnya, perasaan sombong atau takabbur boleh berlaku apabila timbulnya suatu pandangan terhadap orang lain dengan pandangan yang kecil dan hina.

    UJUB (BANGGA DIRI)

    Terdapat tiga ciri-ciri ujub iaitu :

    a. Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.

    b. Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahawa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahawa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.

    c. Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahawa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.

    Pernah Allah Subhanahu Wata’ala jelaskan kepada kita perihal umat-umat di zaman silam. Mereka merasa takjub dengan diri mereka sendiri. Hal ini menghalang mereka menurut kebenaran. Hujjah mereka selalunya ialah seperti yang tertera di dalam Al-Quran :-

    “Bukankah kamu tak lebih dari manusia(biasa) seperti kami juga?”

    Dan ungkapan yang berbunyi: “Dan mereka berkata adakah wajar kami mempercayai manusia yang seperti kami juga?”

    Golongan tersebut merasa aneh melihat orang yang berjaya mendapat pangkat kerasulan, menerima wahyu dan martabat yang dekat di sisi Allah Subhanuahu Wata’ala ialah manusia seperti mereka. Sebab itu mereka menaruh rasa dengki kepada Rasul-Rasul tersebut.

    TAKUT TERLEPAS SESUATU TUJUAN DAN HABUAN

    Biasanya perasaan ini wujud dalam kalangan orang yang saling berlumba-lumba merebut sesuatu habuan. Tiap orang akan merasa dengki kepada saingannya apabila saingannya mendapat suatu kelebihan yang boleh membantu dirinya sahaja membolot habuan yang menjadi tujuan mereka tadi.

    GAIRAH MENJADI KETUA DAN MENCARI POPULARITI

    Umpamanya seseorang yang bercita-cita untuk menjadi manusia pertama yang tidak ada tolok bandingnya dalam salah satu cabang seni. Apabila keghairahan terhadap pujian dan jolokan – bahawa dialah satu-satunya pakar yang tidak ada taranya di zaman itu – telah menguasai dirinya, tiba-tiba dia mendengar ada orang lain yang dapat menandinginya di tempat lain. Hal ini nescaya akan menyusahkan hati perutnya. Ia bercita-cita kalau tandinganya itu mati sahaja atau kemahirannya menurun dan pupus.

    BUSUK HATI

    Keadaan ini kalau ada pada seseorang maka ia akan bersikap tidak suka sesuatu kebaikan diperolehi oleh hamba Allah yang lain. Apabila disebutkan dihadapannya tentang kesenangan mana-mana hamba Allah, sempit hatinya mendengar perihal tersebut. Akan tetapi apabila dinyatakan pula sebaliknya, umpama tentang kesusahan, kegagalan dan nasib malang menimpa orang lain maka ia merasa gembira dan suka hati.

    Sahabat yang dimuliakan,
    Marilah sama-sama kita buangkan sifat hasad dengki ini samaada di dalam hati atau di dalam tindakkan dan amalan kita. Sifat yang keji ini bukan saja mendapat kebencian manusia tetapi yang paling penting sifat ini di benci oleh Allah S.W.T. Hidup di dunia ini adalah sementara dan kehidupan di hari akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi maka tinggalkanlah sifat hasad dengki ini kerana sesiapa yang menuruti sifat ini dia sedang mengikut hawa nafsunya dan mengikut bisikan syaiatan dan akan mendapat azab seksaan dihari akhirat nanti.

  7. “HASUD (IRI HATI/ DENGKI)”
    Hasud ialah dengki, iri hati manakala melihat orang lain dalam kenikmatan. Padahal yang demikian ini sungguh sangat merusak amal pahala taat. Walaupun seseorang rajin beramal taat, maka pahalanya akan rusak apabila ia mempunyai sifat hasud, dengki serta iri hati. Ini penyakit hati yang sangat berbahaya bagi kita semua.
    Berhati-hatilah ! sebab tidak hanya orang awam saja yang mudah terkena hasud. Namun golongan qurro dan ulama pun ada yang terserang hasud di hatinya. Hasud hanya akan menimbulkan dan mendorong pada perbuatan dosa, tak ada manfaatnya sedikit pun bagi jalan akhirat. Ingatlah sabda Rasulullah saw bahwasanya ada enam golongan manusia masuk neraka, diantaranya ialah :
    1. Orang Arab yang fanatik dengan kesukaannya.
    2. Raja-raja yang dzalim.
    3. Pemimpin yang sombong.
    4. Pedagang yang khianat.
    5. Orang desa karena kebodohannya.
    6. Ulama yang mempunyai hati hasud.
    Perhatikanlah, dari enam jenis golongan manusia itu, ada satu yaitu ulama yang masuk neraka karena hatinya hasud. Celakanya, mengapa hasud itu ditempatkan pada ulama. Maka kita bisa berpikir, kalau ulama saja ditimpa hasud, maka betapa orang awam seperti kita ini, tentunya mudah sekali hasud menghinggapi hati. Oleh karenanya, sebisa mungkin kita pelihara hati, kita jaga agar tidak ternoda penyakit hasud.
    Jika penyakit hasud sudah menyerang hati, maka akan menggerakkan lima keburukan, yang diantaranya ialah :
    1. Merusak Amal Taat
    Sesungguhnya hasud itu hanya akan merusak amal taat. Amal taat yang kita lakukan setiap hari akan rusak sama sekali jika di dalam hati menyimpan rasa hasud ini. Nabi saw bersabda berkisar soal hasud : “ tiga perkara yang seseorang tidak dapat selamat darinya yaitu prasangka buruk, hasud, rasa bimbang.” Lalu sahabat bertanya, dengan cara apakah kiranya kami dapat menyelamatkan diri dari tiga perkara itu. Maka Rasulullah menjawab : “ ketika rasa hasud menyelinap di hatimu, jangan kau biarkan berlanjut. Ketika engkau berprasangka buruk kepada seseorang, jangan kau selidiki sampai terbukti. Dan ketika kau bimbang tidak mendapatkan kebaikan, maka berusahalah sehingga tercapai.”
    Jika kita merasa didalam hati ada tanda-tanda hasud kepada orang lain, maka jangan dibiarkan. Hendaknya kita lenyapkan. Jangan kita buktikan menjadi kenyataan ( lahiriyah) sebab Allah akan memaafkan selama hasud itu belum diucapkan dan belum dilakukan.
    Mengapa hasud merusak pahala kebaikan ? sebab hasud ini bahayanya sangat besar. Jika perasaan hasud dilahirkan, maka tidak hanya dosa terhadap Tuhan , tetapi bencana akan melanda pada orang lain. Timbullah fitnah dan macam-macam keburukan terhadap orang lain yang dihasudkan. Hal inilah yang kemudian dianggap suatu keburukan yang akan merusak amal pahala kebaikan.
    Orang yang mempunyai sifat hasud ialah tidak ikhlas jika melihat orang lain dalam kebaikan, kenikmatan dan rejeki yang banyak. Iri hati dan kebencian akan mewarnai hati mereka. Lalu kebencian itu membuatnya memutuskan hubungan persaudaraan, saling memusuhi dan mencurigai tanpa adanya fakta
    Nabi saw bersabda : jangan saling membenci, saling menghasud, dan jangan pula menipu (pura-pura menawar barang, untuk menjatuhkan lain) , jadilah hamba Allah yang akur/bersaudara.
    Tidak ada kejahatan yang melebihi hasud ini, sebab sebelum hasud mengenai sasarannya, terlebih dahulu ada lima macam bencana yang menimpa penghasut (pendengki) diantaranya :
    – Hatinya selalu kacau.
    – Ditimpa bencana/ cobaan yang tak mendapatkan pahala baginya.
    – Dimurkai Allah , dan
    – Tidak mendapatkan taufiq dari Allah Taala
    2. Hasud Pekerjaan Dosa dan Maksiat
    Ketahuilah bahwa hasud itu mendorong seseorang untuk berbuat dosa dan maksiat dengan tanpa disadarinya. Orang yang hasud sering kali munafik. Di depan orang (yang didengki) ia bermanis muka, bersikap baik, namun sesungguhnya hatinya benci. Dibelakang orang yang didengki, ia menjelek-jelekkan. Dan jika orang yang didengki itu mendapat cobaan atau penderitaan, betapa bahagianya dan gembira hatinya. Seakan-akan menari-nari diatas bangkai saja.
    Rasulullah bersabda : “Hati-hatilah bahwa kenikmatan itu selalu diintai oleh musuhnya.” Sahabat bertanya, “ siapakah musuhnya itu?” jawab Rasulullah, “ musuhnya ialah mereka yang mempunyai hati hasud.”
    Oleh sebab itu marilah kita selalu mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang hasud, bahaya hasud itu sendiri bagi kita dan lain sebagainya. Meminta perlindungan kepada Allah agar dipelihara dari hasud sama saja dengan meminta kita dilindungi dari perbuatan setan dan tukang sihir.
    Orang hasud jika melihat saudaranya kaya, banyak rejeki, maka hatinya bagaikan terbakar api. Kendatipun dirinya sendiri berada dalam kenikmatan, namun ia tak rela kalau ada orang yang sama atau melebihi dirinya dalam masalah harta. Lalu kesana kemari kasak kusuk memfitnah saudaranya itu, ini dan itu segala macam cacian. Lalu timbullah pertengkaran yang akhirnya putus hubungan silaturrahmi itu adalah tindak dosa. Bila hasud ini sampai memuncak terjadilah persaingan yang tak sehat dan tak wajar. Sampai-sampai terjadi baku hantam dan pembunuhan.
    Bagi sesama manusia hendaknya kita jalin hubungan yang baik dan saling tolong-menolong. Namun karena salah satunya mempunyai penyakit hasud, jangankan menolong, menyapa saja enggan. Tapi kalau yang didengki itu berada dalam kesusahan, bukan main senangnya hati si pendengki ( orang yang hasud itu )
    3. Hasud Membuat Hati Tak Tenang
    Sesungguhnya penyakit hasud ini sangatlah merugikan bagi kita. Sebab jika hati sudah terjangkit penyakit hasud maka pikiran tak akan bisa tenang. Setiap waktu bimbang dan gelisah. Manakala ada tetangga mempunyai sesuatu yang baru, hatinya bagaikan terbakar. Jantungnya keras memburu dan kebencian pun timbul di otaknya..
    Siang dan malam berusaha bagaimana caranya agar tetangganya itu mengalami kehancuran dan kemelaratan. Jika si penghasud ini miskin, maka hatinya semakin tersiksa, karena ia iri hati tetapi tak bisa menyaingi. Degup jantung terus memburu dan pikiran gelisah jadi tak tenang. Padahal jika ia mau berpikir, buat apa gelisah manakala melihat orang lain dalam kenikmatan. Meskipun ia gelisah dan tak dapat tidur, toh tak akan mempengaruhi orang yang dipikirkan dan didengki. Betapa rugi, usia semakin lama semakin habis, sementara waktu-waktunya dibuat hanya untuk memikirkan keadaan orang lain,mencemburui kekayaan orang lain. Semua hanya menimbulkan kerugian bagi dirinya. Rugi didunia, hatinya tak tenang dan mudah terkena penyakit jasmani. Rugi akhirat karena ia lupa berdzikir kepada Allah, lupa beramal taat dan telah berbuat dosa karena hasudnya itu. Kata Ibnu sama’ra : Keadaan orang zalim itu sama, masing-masing mempunyai nafas yang berlarut-larut, otak yang kosong dan kesusahan yang tak kunjung selesai.
    Orang yang hasud, hatinya tak pernah cerah. Hatinya selalu sedih dan gunda. Pikirannya tak pernah tenang, namun setiap saat keluar masuk rasa cemburu dihatinya atas kenikmatan yang dirasakkan orang lain. Oleh karena itu, maka jaga hati kita jangan sampai terjangkit penyakit hasud. Jika kita menghabiskan waktu untuk cemas karena orang lain merasakan kenikmatan, tentu waktu hidup kita akan terbuang sia-sia. Lebih baik kita gunakan waktu hidup untuk memikirkan hal-hal yang baik, pergunakan sisa waktu hidup kita untuk mengingat Allah dan beramal taat. Syukuri apa yang kita dapat hari ini dan jangan melihat kenikmatan lebih yang dirasakan orang lain. Dengan begitu, waktu hidup kita akan lebih berguna dan pikiran pun akan jadi tenang. Kalau hidup ini mempunyai hati bersih dan pikiran tenang, maka kenikmatan akan dapat kita rasakan. Kebahagiaan akan menjadi milik kita untuk selama-lamanya.
    4. Hasud Membuat Hati Buta
    Karena terkena penyakit hasud, maka hati seseorang bisa gelap dan buta. Karena hatinya telah buta, maka sulitlah untuk memahami hukum-hukum Allah, bahkan sama sekali tak mampu. Mengapa demikian ? karena hati si penghasud selalu disibukkan dengan pemikiran-pemikiran buruk, tidak tenang, bimbang dan segala kemaksiatan lainnya, sehingga tertutup untuk bisa menerima syariat/ hukum allah. Sofyan Ats Tsauri ra berkata : “Biasakanlah olehmu berdiam ( tidak bicara) tentu engkau akan mempunyai sifat waro ( teliti ). Dan jangan tergila-gila kepada dunia, maka engkau akan terpelihara ; janganlah memperolok-olok orang lain agar engkau selamat dari mulut mereka dan janganlah hasud, agar engkau cepat faham (dalam menerima ilmu)
    Butanya hati tidak hanya menimbulkan kedunguan saja, tetapi sampai pada tidak bisa membedakan mana kebaikan dan mana keburukan, mana keuntungan dan mana kerugian, mana kawan dan mana lawan. Ingatlah wahai saudaraku ! tentang akibat kedengkian sehingga Qabil tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ulama Hikmah berkata : Hati-hatilah engaku, jangan sampai mempunyai hati dengki (hasud), sebab dosa-dosa yang diperbuat, di langit atau dibumi pada pertama kalinya adalah akibat sifat dengki yang menjangkit dalam hati. Seperti ceritanya setan yang dilaknat Allah karena ia dengki kepada Adam. Seperti cerita Qabil membunuh Habil karena dengki pula.
    Dalam Alquran diceritakan kisah dua anak Adam. Satu bernama Qabil dan lainnya bernama Habil. Adam sesungguhnya mempunyai anak banyak. Namun yang banyak disebut-sebut adalah Qabil dan Habil, serta dua anaknya lagi yang perempuan.
    Dalam perkawinannya (berkumpul) dengan Hawa, Adam mendapatkan anak. Anak yang lahir pertama kembar demikian seterusnya. Memang setiap hamil dan melahirkan, Hawa selalu beranak kambar laki-laki dan perempuan, anak yang lahir kembar disebutnya satu saudara perempuannya tidak boleh dikawini.
    Anak pertama yang lahir ialah Qabil dan Iklima. Lalu beberapa tahun kemudian menyusul kelahiran kedua yaitu Habil dan Liyuda. Ketika mereka sudah menginjak usia dewasa, maka ada perintah dari Allah agar Adam mengawinkan anak-anaknya, namun saudara kembar tak boleh dikawinkan. Berarti Qabil harus kawin dengan Liyuda dan Habil harus kawin dengan Iklima (saudara kembarnya Qabil.
    Iklima (saudara kembarnya Qabil) memang sangat cantik wajahnya. Sedangkan Liyuda berwajah buruk. Keitka Qabil hendak dijodohkan dengan Liyuda , ia tak mau menerima karena Liyuda adalah berwajah buruk. Sedangkan ia sangat kecewa kalau saudara kembarnya yang cantik dijodohkan dengan Habil.
    Mulailah timbul perasaan iri dan dengki di hati anak Adam ini. Qabil merasa sangat iri jika Iklima yang cantik dijodohkan dengan Habil, sedangkan ia mendapatknan Liyuda (saudara kembar Habil) yang buruk. Rasa iri itu membuat Qabil berhati buta dan bermata gelap. Apalagi ketika keduanya mempersembahkan barang qurbannya di atas bukit. Ternyata qurban Habil yang diterima, sedangkan qurbannya ditolak. Semakin membara kedengkian Qabil terhadap adiknya.
    Suatu hari Qabil merencanakan untuk musnahkan Habil dari muka bumi. Namun bagaimana caranya ? Ia masih belum berpengalaman dan tak punya ilmu untuk melenyapkan nyawa seseorang. Lalu datanglah syetan memberi ajaran bagaimana membinasakan orang. Maka suatu ketika Qabil menemui Habil kemudian menggampar kepala adiknya itu dengan batu. Habil akhirnya binasa.
    Jadi pembunuhan pertama kali yang terjadi di muka bumi adalah akibat sifat dengki. Qabil dengki kepada Habil, ia iri karena mendapatkan jodoh buruk, sedangkan Habil mendapatkan jodoh cantik. Hendaknya kisah ini dapatlah kita jadikan sebagai pelajaran yang berharga , agar kita menyadari kalau kedengkian , hasud itu sangat berbahaya.
    Orang yang hatinya sudah berpenyakit hasud maka hidupnya tak pernah merasakan bahagia. Sementara orang yang kikir, tak punya budi. Ibnu Sirih berkata : “ Aku tak pernah iri kepada seseorang karena harta dunia, jika ia penghuni surga mengapa aku harus iri, padahal ia penghuni surga. Dan aku pun tak akan iri kepada penghuni neraka, karena ia akan masuk neraka.
    Ada tiga golongan manusia yang doanya akan terhalang dan ditolak oleh Allah , yaitu orang yang suka makan makanan haram, suka ghibah dan suka mendengki kepada umat Islam .
    Dalam sebuah Hadist , diceritakan bahwa Rasulullah pernah memberi nasehat kepada Anas bin Malik ra . Anas bin Malik adalah orang yang semenjak usia delapan tahun menjadi pelayan Nabi saw . pesan Nabi saw ,ialah sebagai berikut : “ Wahai Anas ! Janganlah engkau simpan hasud, dengki kepada sesama muslim baik siang maupun malam hari. Inilah ajaranku , barangsiapa mengikuti ajaranku , berarti cinta kepadaku yang berarti pula ia akan berdampingan denganku di surga.”
    Oleh sebab itu, menjaga dan membersihkan hati dari penyakit hasud adalah termasuk sunnah Rasul, barangsiapa yang mengikuti sunnah rasul berarti cinta kepadanya dan kelak di surga akan bertemu dia. Bahkan dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Bukan ummatku , orang yang mendendam dengki , suka adu domba dan berilmu dukun, sebaliknya aku pun bukan golongan mereka.
    5. Hasud Menghalangi Kebaikan
    Orang yang hatinya dipenuhi penyakit hasud, maka baginya terhalang kebaikan dan kebenaran. Yang ada hanyalah keburukan dan kemaksiatan belaka. Karena tertutup dari kebaikan, sulitlah baginya untuk mendapatkan taufiq. Ia tak akan dapat mencapai apa yang diharapkan, bahkan sangat membantu musuh-musuhnya dan mencelakakan dirinya sendiri.
    Hatimul Ashom ra berpendapat : orang yang dengki itu bukan ahli agama dan orang yang suka mencela tidak termasuk golongan yang beribadah , orang yang suka mengadu domba termasuk yang tak dapat dipercaya dan orang yang hasud termasuk golongan orang yang tak perlu ditolong.
    Orang yang suka hasud ( pendengki ) sudah mendapat predikat sebagai penantang Allah karena lima perkara :
    1. Orang hasud sangat membenci nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain.
    2. Orang yang hasud tidak rela ketentuan Allah dalam pembagian rejeki padanya , hati kecilnya berkata “ Mengapa demikian caramu membagi rejeki .”
    3. Orang hasud diselimuti rasa kikir atas karunia Allah .
    4. Orang hasud secara tak disadari menghina kekasih Allah , karena keinginannya melenyapkan nikmat Allah yang diberikan kepada orang tersebut.
    5. Orang hasud itu balatentaranya iblis , yang selalu siap membantunya.
    Adapun akibat perilakunya yang hasud maka orang tersebut akan menerima keburukan-keburukan, di dunia maupun di akhirat , yaitu :
    1. Ia selalu rendah dan terhina di tengah-tengah (pergaulan) dalam masyarakat.
    2. Ia sangat dibenci dan dikutuk oleh para malaikat.
    3. Pikiran selalu kacau dan duka terutama di tempat sunyi (sendirian).
    4. Terasa berat dan menemui kesulitan dalam menhadapi naza’ ( sakaratul maut )
    5. Ketika hari kiamat akan menanggung malu dan siksa yang pedih.
    6. Tempatnya di neraka.
    Demikianlah sekedar ulasan tentang penyakit hati berupa hasad atau hasud. Semoga kita semua mendapat hidayah dari Allah dan diberi kekuatan untuk menjaga hati kita agar tidak terjangkit penyakit yang sangat berbahaya t

  8. IKHLAS bukan karna mengharap balasan yang lebih?
    tapi kadang orang2 sesudah kita yang saya temui, IKHLASlah karena kamu akan dapat gantinya yang lebih baik🙂
    saya jadi bingung, menurut saya IKHLAS itu adalah ketika kita bisa legowo atas apa yang telah di KehendakiNya. terima kasih.

  9. saya tidak tau apakah saya sedang berjalan di tengah kegelapan atau saya tidak tau apakah saya sudah sampai di lorong cahaya setelah melewati kegelapan,saya adalah mantan orang yang pernah sangat dekat dengan agama,tetapi karena merasa saya tidak butuh itu semua perlahan saya menjauh dari agama,entah merasa tersadar atau tertegur di tahun 2013 kemarin semua yang saya rasa sangat berharga hilang semua,saya memiliki guru spiritual dia selalu memberikan pandangan bahwa saya adalah termasuk orang yg diberikan baroqah lebih oleh allah,tetapi saya sudah merasa lebih dan sombong,setelah saya melakukan refleksi,saya berkomunikasi dengan guru saya,saya bercerita dengan rasa sedih tentang semua kehilangan yang saya alami,tetapi saya tidak menangis atau tidak merasa sakit,justru saya berderai air mata saat saya mendengar kalimat dari guru saya sebagai berikut : ” kamu harus belajar iklas dan jangan takabur sama allah” dari kalimat itu saya berderai air mata,saya tak tahu mengapa mendengar kata iklas itu saya menangis,entah karena saya blm siap mengiklaskan semua atau entah karena saya sudah mulai belajar iklas,setelah saya kembali kepada hal-hal yang saya lakukan 10 tahun lalu dalam hal ini mendekatkan diri kepada agama,rejeki saya sekarang alhamdulilah selalu ada….saya tak tau apakah ini ada sebab dan akibat atau tidak,tapi yang saya yakini,saya harus belajar iklas….mari bersama kita belajar iklas….allah selalu bersama orang yang iklas

    • Subhanallah,….. sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kt semua. saya pribadi belum lama ini juga punya pengalaman tentang pemahan ilmu “ikhlas”. intinya apa yg saya rasakan saat itu adalah. ketika saya berniat ikhlas tapi belum tembus sampai pada hati maka itu bukan iklas. saya sering berkata “saya ikhlas kok” tapi kenyataannya hati belum. saat itulah segalanya dalam hidup saya diuji oleh Allah. semua nikmat yang aku miliki satu persatu hilang. namun suatu waktu ketika hati terasa luluh dengan yg sedalam2nya tentang ikhlas. Subhanallah Allah mengembalikan segalanya dengn lebih indah. padahal padasaat itu adalah TITIK dimana sungguh demi Allah aku telah tidak mengharapkannya lagi. ……🙂

  10. semuanya bermanfaat… semoga berkah. yang menulis mendapat rahmat dan yang membaca mendapat berkah🙂 subhanallah…

  11. Ping-balik: Sentothary’s PhotoBlog

  12. beberapa bulan yang lalu mobil saya di larikan oleh teman saya hingga saat ini tidak ditemukan..bukan cinta harta atau dunia..akan tetapi mobil itu kami dapat dengan segala impian dan susah payah saya dan istri…sulit sekali saya ingin melupakan nya..kadang2 hati terkilan ketika melihat mobil yang sama
    semoga Allah menguatkan hati kami sekeluarga,,,semua yang ada di dunia ini milik ALLAH dan akan kembali pada NYA

  13. terimakasih telah ngepost ini kawan… saya jadi merasa semakin ikhlas setelah saya baru kehilangan harta benda saya🙂 .

Jangan Lupa Tinggalkan Balasan Anda Ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s