CONTOH KAJIAN KRITISI

Standar
Potret DRPL

Sang Profil

By : Dyan Riskiana Purnamalita

Kajian kritis:

Apa yang Salah dari Proses Pembelajaran IPS di SD?

(Suatu Kajian Kritis Terhadap Artikel Berjudul: Proses Pembelajaran IPS di SD, Tulisan: Isjoni)

Oleh: Dyan Riskiana Purnamalita, Amk.

Pendahuluan

Tulisan yang berjudul Proses Pembelajaran IPS di SD mumgkin dapat dikutip dari sebuah media cetak ataupun media massa yang belum jelas kepastiannya.Kemungkinan juga dapat diakses melalui situs internet.Karena pada kenyataannya penulis artikel tidak mencantumkan tinjauan pustaka untuk membuktikan kebenaran sumber artikel ini berasal.

Tulisan ini merupakan Artikel yang ditulis oleh Isjoni.Dimana belum dapat diketahui secara jelas profilnya karena sekali lagi Sdr.Isjoni tidak  mencantumkan tinjauan pustaka atau situs-situs tertentu yang dapat membeikan informasi mengenai profilnya.

Tema yang diangkat Sdr.Isjoni cukup menarik dan relevan untuk dikaji saat ini. Hanya saja dalam pemilihan judul terkesan masih membinggungkan. Dalam judul tertulis “Proses Pembelajaran IPS di SD” memungkinkan banyak pembaca yang akan masih bertanya-tanya tentang “Proses pembelajaran IPS yang seperti apa yang anda maksud di sini?ada apa dengan proses pembelajaran IPS di SD saat ini?” yang sekiranya dianggap masih kurang tepat bagi Sdr.Isjoni. Karena tampak sekali secara tidak langsung dalam artikel ini Sdr. Isjoni seperti menganggap kurang tepat proses pembelajaran IPS tertentu di Tingkat SD. Dari judul yang Sdr. Isjoni pilih masih secara umum,mungkin  bisa untuk lebih di spesifikasikan lagi. Pembahasan dalam artikel telah memberikan beberapa alasan berupa fakta,dugaan dan argumentasi logis mengenai proses pembelajaran IPS di SD yang secara tidak langsung seperti seakan-akan Sdr.Isjoni tidak setuju dengan Proses pembelajaran IPS di SD saat ini. Menurut Sdr.Isjoni, proses pembelajaran IPS di SD selama ini lebih ditekankan kepada penguasaan bahan/materi pelajaran sebanyak mungkin,sehingga suasana belajar bersifat kaku dan terpusat pada satu arah serta tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar lebih aktif. Budaya belajar lebih ditandai dengan budaya hafalan daripada budaya berfikir,akibatnya siswa menganggap bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran hafalan.

Sebagai pembahasan yang menyangkut issue penting dan relevan dengan perkembangan pendidikan,maka artikel ini memeiliki arti penting dan perlu dibaca. Namun demikian,fakta data dan argumentasi dapat dipertajam lagi sehingga dapat lebih objektif.

Rangkuman

Dalam memaparkan gagasannya, Sdr.Isjoni mengorganisasi isi artikelnya kedalam beberapa paragrap(terdiri dari 7 paragrap) yaitu poin pertama menjelaskan tentang pengertian pembelajaran menurut Resnik yang dikutip oleh Martirella tahun 1991. Poin ke dua tentang pembelajaran selain harus memotivasi siswa untuk aktif,kreatif dan inovatif ,  juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa itu sendiri. Poin ke tiga tentang kesenjangan antara konsep yang ada tentang proses pembelajaran IPS di SD dengan kenyataannya dilapangan. Poin ke empat tentang  proses pembelajaran IPS di SD semakin kuat mengarah untuk mempersiapkan siswa supaya berhasil dalam Ujian Nasional (UN) dan mendapat sekor yang tinggi terutama di kelas VI. Poin ke lima tentang hambatan-hambatan dalam melakukan inovasi dalam proses pembelajaran IPS di SD sehingga belum dapat dilaksanakan dengan baik. Poin ke enam tentang penggunaan model pembelajaran terpadu dipandang sebagai salah satu inovasi dalam pembelajaran IPS. Dan poin terakhir tentang keuntungan menggunakan model pembelajaran terpadu dalam pembelajaran IPS.

Kritik

Pada paragrap pertama seharusnya diberi sebuah pengantar yang lebih menarik sebagai pembukaan sebuah bacaan atau artikel,mungkin bisa ditambah dengan sebuah ilustrasi yang sesuai dengan tema yang diangkat dan tentunya ilustrasi itu memang nyata adanya.Sehingga pada awal membaca tidak harus pada pokok bacaan yang terkesan “to the poin dan berat” semuanya perlu alur yang baik. Dimana disini tiba-tiba langsung disuguhkan dengan kutipan menurut tokoh tertentu. Bagaimana bisa pembaca langsung disuguhi dengan penjelasan seperti itu? Mungkin setelah dibuka dengan ilustrasi baru dapat dijelaskan mengenai konsep pembelajaran itu sendiri. Sdr.Isjoni sudah tepat memaparkan pengertian pembelajran  menurut Resnik yang dikutip oleh Martorella tahun 1991 tetapi alangkah baiknya Sdr.Isjoni tidak hanya mencantumkan satu pengertian saja mungkin dapat ditambah beberapa pendapat lagi sehingga dapat lebih mendukung artikel semakin objektif  kebenaranya. Selain itu sebaiknya referensi yang diangkat juga menggunakan acuan pada referensi terbaru paling tidak referensi 10 tahun yang lalu. Sehingga bila di ambil acuhan dari tahun 1991 terlalu jauh. Mungkin setelah  tahun 1991 berikutnya sudah ada konsep-konsep baru yang lebih akurat. Paragrap pertama ini juga kurang spesifik dalam memaparkan sebuah konsep pembelajaran. Dimana dalam hal ini Sdr.Isjoni mengangkat tema tentang proses pembelajaran IPS di SD. Seharusnya setelah dipaparkan tentang pengertian pembelajaran(yang masih terkesan secara umum), Sdr.Isjoni perlu pula memaparkan penjelasan tentang IPS sendiri itu apa? Sebuah mata pelajaran yang condong pada konsep berfikir yang seperti apa?, Lalu pada tingkatan SD,anak itu masuk dalam perkembangan yang seperti apa?Yang di sebut sebuah Proses itu apa? Lalu baru disimpulkan secara keseluruhan sebuah proses pembelajaran IPS di SD itu apa?  Sehingga dengan demikian tampak lebih jelas,selanjutnya memungkinkan dapat ditarik kesimpulan tentang proses pembelajaran IPS yang tepat pada tingkat pendidikan SD.

Pada paragrap ke dua Sdr.Isjoni sangat baik dalam memberikan argumennya yang dikuatkan dengan kurikulum pendidikan IPS sekolah dasar tahun 1994 butir 9 tentang hal-hal ynag perlu diperhatikan dalam melaksanakan GBPP(Depdikbud,1993). Dimana intinya pembelajaran harus bersifat aktif,kreatif dan inovatif. Bukankah semua tingkatan pendidikan menghendaki hal ini? Tidak hanya pada tingkatan SD saja. Seharusnya Sdr,Isjoni bisa menspesifikan lagi tingkatan aktif,kreatif dan inovatif yang sesuai dengan tingkat SD. Apalagi Sdr.Isjoni juga menyebutkan bahwa pembelajaran selain harus mampu memotivasi siswa untuk aktif,kreatif dan inovatif juga harus sesuai dengan tingkat perkenbangan siswa itu sendiri.

Berikut ini adalah catatan tingkat perkembangan di masa SD dimana pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (=kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.
Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatan-kelurahan/desa-RT/RW-tetangga-keluarga-Aku.

Selanjutnya, Pada pendapat Sdr.Isjoni yang mengatakan bahwa ada ketidak sesuaian antara konsep dengan kenyataannya. Serta menganggap proses pembelajaran IPS di SD selama ini lebih ditekankan pada penguasan bahan materi dan pendapat bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran hafalan mungkin bisa diperkuat dengan adanya sebuah sampel,survei dan penelitian yang lehih mendukung. Mungkin Sdr.Isjoni mampu mencantumkan konsep bahwa pelajaran IPS bukan pelajaran hafalan tetapi pemahaman.

Mungkin ini beberapa yang dapat dilakukan seorang guru agar pembelajaran tidak terkesan kaku dan membosankan.Dimana kita ketahui sesuai dengan karakteristik anak dan IPS SD, maka metode ekspositori akan menyebabkan siswa bersikap pasif, dan menurunkan derajat IPS menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Guru yang bersikap memonopoli peran sebagai sumber informasi, selayaknya meningkatkan kinerjanya dengan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti menyajikan cooperative learning model, role playing, membaca sajak, buku (novel), atau surat kabar/majalah/jurnal agar siswa diikutsertakan dalam aktivitas akademik. Tentu saja guru harus menimba ilmunya dan melatih keterampilannya, agar ia mampu menyajikan pembelajaran IPS SD dengan menarik. Sehingga kesan pelajaran IPS adalah pelajaran menghafal dapat dihilangkan.

Sdr.Isjoni juga menyebutkan adanya model pembelajaran terpadu yang dipandang sebagai salah satu inovasi dalam pembelajaran IPS ,akan tetapi guru tetap saja belum bapat melaksanakannya secara optimal. Lalu parameter apa yang Sdr.Isjoni gunakan sehingga mengatakan itu optimal atau belum optimal? Seakans–akan disini Sdr.Isjoni menyalahkan peran seorang guru. Padahal untuk mengoptimalkan semuanya banyak faktor yang berpengaruh bukan hanya dari pihak guru yang mengajar.

Dalam artikel ini juga dipaparkan tentang hambatan-hambatan  dan keuntungan dari pelaksanan model pembelajaran terpadu. Namun alangkah baiknya jika Sdr.Isjoni juga memberikan sarannya tentang upaya-upaya apa saja yang mungkin bisa dilakukan untuk memperkecil hambatan-hambatan tersebut sebelum memaparkan apa keuntungan-keuntungan dari model pembelajaran terpadu tersebut.

Dalam keseluruhan tulisannya sudah cukup baik dan mengangkat tema yang menarik,hanya saja dalam memaparkannya kurang lebih dijelaskan lagi.  Namun terlepas dari seluruh kritikan diatas, apa yang telah ditulis Sdr.Isjoni memberi nilai yang positif pada seluruh pembaca pada umumnya dan bagi para guru untuk merefleksikan diri pada khususnya, apakah proses pembelajaran IPS yang dilakukan sudah optimal atau belum.

Kesimpulan

Akhirnya, tulisan Sdr.Isjoni sebagai sebuah masukan  agar guru lebih mampu mengoptimalkan lagi dalam memilih metode dan proses pembelajaran efektif yang di butuhkan siswa-siswi SD sesuai dengan tingkat perkembanganya.

Referensi

Bruner, J. (1978). The Process of Educational Technology. Cambridge : Harvard University.

Farris, P.J. and Cooper, S.M. (1994). Elementary Social Studies. Dubuque, USA : Brown Communications, Inc.

Mangkoesaputra,Arif.2005.Pembelajaran Pendidikan IPS di Tingkat Sekolah Dasar.Model Pembelajaran, dalam http://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-dalam-belajar/.

Jangan Lupa Tinggalkan Balasan Anda Ya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s